T A M B A L
Salatiga, 21 Maret 2015.
Hari ini saya sebenarnya mau hunting bersama teman-teman KBM
Comic Fiskom UKSW di Sumurup, rencananya sih jam setengah 5 kumpul di depan
kampus, tp sayang saya bangunnya jam 5, dipikir-pikir sudah telah sepertinya
(urungkan niat).
Rencananya juga setelah hunting di Sumurup mau ikut WWIM
(World Wide Insta Meet) di Ambarawa, tapi gagal lagi untuk berangkat, tiba ada
kerjaan yang penting dan mendesak (cetak album foto).
Mulailai saya berjalan menuju tempat percetakan, singkat
cerita saya pulang dari tempat percetakan, berjalan santai sambil menikmati
pemandangan dijalan.
Ceritanya sudah mau sampai dirumah, tapi saya melihat ada sesuatu
yang menarik. Ada yang sedang menambal jalan, atau lebih tepatnya menambal
tutup saluran air (selokan). Maka bergegaslah saya menghampiri bapak-bapak yang
sedang menambal selokan ini, saya keluarkan kamera dan jepret-jepret.
Perum Purisatya blok 1, Kemiri, Salatiga. Ya, selokan air
ini berada disana.
Selokan air ini berada di atas jalan yang sering dilalui warga, bisa dikatakan adalah jalur utama lalu lintas warga Perum Purisatya dan sekitarnya.
Selokan air ini berada di atas jalan yang sering dilalui warga, bisa dikatakan adalah jalur utama lalu lintas warga Perum Purisatya dan sekitarnya.
Belum lama selokan ini dibangun oleh pemerintah Kota Salatiga, akan tetapi semenjak setelah dibangun sudah banyak yang bolong-bolong, tidak kuat menahan beban diatasnya, total lubang sampai dengan sekarang adalah 6 lubang, dan yang paling berbahaya adalah lubang yang sering dilalui oleh warga, pasir dan semen yang sudah mengeras kini telah jatuh ke saluran air, besi-besipun terlihat mencolok ke atas dan selama ini hanya diletaki oleh warga dengan tumbuhan sejenis kaktus oleh warga untuk menandainya sebagai lubang yang harus dihindari.
Setelah saya jepret-jepret saya mulai berbicang dengan salah
seorang yang sedang menambal selokan ini, saya mulai menanyakan siapa nemanya
dan beliau menjawab namaya adalah pak Slamet Supriyanto, saya mulai
berbincang-bincang lumayan lama, tanya-tanya ngalor ngidul.
Kata pak Slamet campuran semen dan pasir yang digunakan untuk membangun selokan ini sangatlah kurang, jadi cepet rusak, gak tahan lama gitu.
Saya mulai deh sentil pak slamet dengan “Padahal barusan lo ini pak dibangunnya, lama juga dulu proses membangunnya”;
“Halah, biasa to mas, kalo kerjaan yang dibangun Pemkot seperti ini sudah biasa kalo bangunannya gak kuat, uwis dikurangi” kata Pak Slamet;
“Sampun dikurangi duite barang njih pak?” tanya saya;
“Nah, ya seperti itu mas, dana seko pemkot kalo seumpama minta 1jt aja turun Cuma 800, piye carane iso tahan lama?!” jawab pak Slamet;
“Belum lagi dikurangi yang lain-lain ya pak? Tambah sitik dana damel mbangune” sentil saya lagi.
Banyak hal yang dapat saya ketahui dari perbincangan saya
dengan Pak Slamet, dan ternyata untuk menambal selokan ini Pak Slamet merogoh
koceknya sendiri, untuk menambal selokan ini menghabiskan 2 sak semen, meskipun
luas lubang hanya sekitar 1,5 meter kali 1 meter, tapi kata Pak Slamet “Gen
kuat lan tahan lama mas, mboten cepet rusak”.
Sekitar 45menit saya menemani pak Slamet dan kawan-kawan
mengerjakan pekerjaannya. Meskipun pekerjaan yang dilakukan Pak Slamet belum
selesai, tapi perut saya sudah mulai lapar, akhirnya saya pamit pulang deh.
#nginjenUrip_Project



